LANGKAT-MITRAMEDIA, -Praktek tak terpuji diduga mewarnai penyaluran dana bantuan bencana banjir dari Kementerian Sosial (Kemensos) RI untuk korban terdampak tahun 2025 di Kabupaten Langkat. Seorang oknum Kepala Lingkungan (Kepling) di Kecamatan Sei Lepan berinisial WT diduga kuat memanipulasi data penerima manfaat dengan memasukkan dua unit rumah kosong tak berpenghuni demi meraup keuntungan pribadi.
Penyaluran buku tabungan bantuan untuk kategori rumah rusak ringan dan sedang sebelumnya telah didistribusikan secara bertahap pada 4, 8, dan 9 Juni 2026 oleh tim gabungan yang melibatkan BPBD Kabupaten Langkat, Dinas Perkim, Tim Teknis, Camat, serta Bank BRI. Namun, proses yang seharusnya meringankan beban korban bencana ini justru diduga dimanfaatkan oleh oknum Kepling WT.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari warga setempat di Takari Makmur, Kelurahan Harapan Jaya, Kecamatan Sei Lepan, oknum WT disinyalir mengusulkan data penerima atas objek dua rumah tua yang tidak berpenghuni.
"Uang bantuan itu diduga kuat tidak diserahkan kepada siapa pun karena memang rumah itu kosong dan tidak ada renovasi sama sekali. Yang menikmati dana tersebut disinyalir adalah oknum Kepling itu sendiri," ungkap seorang warga Sei Lepan yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Menanggapi dugaan penyelewengan tersebut, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Langkat, Ansyari, mengaku terkejut. Ia menegaskan bahwa skema bantuan yang disalurkan nominalnya mencakup Rp15.000.000 untuk kerusakan ringan dan Rp30.000.000 untuk kerusakan sedang.
"Secara aturan, pencairan dana dilakukan via buku tabungan dengan skema 80 persen untuk bahan bangunan di panglong dan 20 persen untuk upah tukang setelah adanya verifikasi fisik. Jika ada indikasi manipulasi atau penyelewengan di lapangan, beritahu lokasinya. Saya akan turun langsung melakukan tinjauan bersama Camat Ikbal," tegas Ansyari.
Pihak media telah berupaya melakukan konfirmasi dan meminta klarifikasi kepada oknum Kepling WT serta Lurah Harapan Jaya, Hermanto. Namun hingga berita ini diturunkan, keduanya enggan memberikan tanggapan dan memilih bungkam saat dihubungi melalui sambungan telepon.
